Wednesday, August 3, 2016

Helaan Dingin Napas Pegunungan

Pagi ini ku biarkan jendela kamarku terbuka disaat langit masih tak berwarna.
Udara dingin merontak masuk dan memeluk tubuh ini.
Entahlah rindu yang sejak kemarin ku ceritakan tak jua reda.
Kini kala dingin memeluk erat tubuh ini, aku tertarik oleh waktu yang telah berlalu. Ketika aku berada di sebuah kamar berdindingkan kayu di sebuah desa , menahan dingin helaan napas pegunungan, dengan pakaian yang sedikit basah karena hujan yang menyapa senja.
Sesaat setelah kuserahkan untaian doaku pada sang pencipta, aku melihat dirimu utuh di pagi itu, bukan hanya seperti gambar dimeja kerjaku. Ya, dengan senyuman ringan itu kita saling menyapa meski dengan obrolan hemat karena mungkin kau takut suara kita mengganggu mereka yang masih bermimpi.
Masih dengan dingin yang memeluk erat tubuh ini aku harus pergi di temani langit Yang masih belum juga berwarna.
Aku mulai coba membangukan opin, rupanya opin masih rindu padamu, hingga butuh waktu dan tenaga untuk membuat opin ini terbangun.
Di sela aku berusaha membangukan opin, kini kudengar senyummu mulai bernada meski aku tak jelas melihat wajahmu karena gelap yang menghalangi.

Aku rindu saat itu,
Aku rindu ketika dingin memelukku,
Aku rindu ketika kudengar senyummu yang mulai bernada,
Aku rindu melihat wajah pagimu,
Aku rindu obrolan hemat kita,
Aku rindu itu.
Maaf aku berharap kau akan menahanku di pagi itu menikmati secangkir kopi atau teh hangat sekedar untuk melepas pelukan dingin yang sejak kemarin menemaniku.

"Treng teng teng teng teng" ,,, akhirnya opin bangun bergegas ku memberikan sebuah gelang sebagai kado ulangtahunmu, dan langsung opin membawa aku dan membiarkan kau mengecil dari pandangan, semakin jauh kau menghilang dari pandangan berganti dengan gambar senyummu, suaramu, dan kenangan yang semakin mengakar dalam ingatan dan hati ini.

Dengan dingin pun aku dapat merindu.
Itu aku entah kamu.

Alvikuye
12/15
Bandung

No comments:

Post a Comment