Jumat 30
Maret 2016,
Aku bangun memang agak siang bukan agak lagi tapi memang siang,hehe karena saat aku sadar jam memberitahu bahwa aku harus bergegas bangun dan gosok gigi karena sudah pukul 11.45 .
Hari ini aku harus pergi ke suatu tempat dimana seorang perempuan hebat mendewasa.
Aku bangun memang agak siang bukan agak lagi tapi memang siang,hehe karena saat aku sadar jam memberitahu bahwa aku harus bergegas bangun dan gosok gigi karena sudah pukul 11.45 .
Hari ini aku harus pergi ke suatu tempat dimana seorang perempuan hebat mendewasa.
Jadwal keberangkatan kereta hari ini pukul 15:45 mugkin memang banyak spere
waktu yg aku miliki, tapi tanpa opin rasanya aku harus berfikir ulang akan
spere waktu itu, karena aku harus pergi menggunakan angkutan umum di tengah
padatnya lalu lintas karena ada pertandingan sepakbola tim kesayanganku.
Pukul 13.19 aku beranjak dari rumahku entahlah ini mungkin hal bodoh pertama untuk mengawali perjalanan ini. Aku salah memakai switerku ketika aku sadar di tengah perjalanan bahwa switerku terbalik.
Pukul 13.19 aku beranjak dari rumahku entahlah ini mungkin hal bodoh pertama untuk mengawali perjalanan ini. Aku salah memakai switerku ketika aku sadar di tengah perjalanan bahwa switerku terbalik.
Butuh
2kali naik angkot untuk mencapai stasion Bandung.
Dan di angkot pertama aku baru ingat aku hanya bawa uang 5ribu rupiah, itu jelas hanya cukup untuk satu angkot saja. Setelah melewati padatnya lalu lintas dan menghabiskan banyak waktu diangkot pertama pada pukul 14.51 aku tiba di pemberhentian pertama, dan tanpa basa basi lagi aku bergegas membuka switerku yg terbalik dan lanjut mencari atm dan ditengah kepanikan akan waktu yang semakin sempit atm yang aku cari tak kunjung terlihat aku harus sedikit berjalan lebih jauh lagi.
Pada pukul 15.12 aku naik ke angkot yg kedua, aku sudah pasrah jika sewaktu waktu angkot ini ngetem sudahlah mungkin aku harus membatalkan perjalanan ini.
Jam tanganku kini memberitahuku pukul 15.35 yah aku baru sampai di loket tiket kereta yang akan membawaku ke kotamu. Hmm dengan panik yang ada dan keringat setelah sedikit berlari aku segera menyelesaikan tugasku didepan loket kereta dan segera bergegas masuk ke kereta yang segera berangkat.
Dan pukul 15.43 aku duduk di kursi kereta dan bersiap untuk menuju ke kotamu.
Aku senang karena kali ini aku tidak terlambat seperti waktu itu, karena terlambat 2menit saja aku takan bisa melihat raut wajah cemberut dirimu saat aku terlambat dulu.
Dan di angkot pertama aku baru ingat aku hanya bawa uang 5ribu rupiah, itu jelas hanya cukup untuk satu angkot saja. Setelah melewati padatnya lalu lintas dan menghabiskan banyak waktu diangkot pertama pada pukul 14.51 aku tiba di pemberhentian pertama, dan tanpa basa basi lagi aku bergegas membuka switerku yg terbalik dan lanjut mencari atm dan ditengah kepanikan akan waktu yang semakin sempit atm yang aku cari tak kunjung terlihat aku harus sedikit berjalan lebih jauh lagi.
Pada pukul 15.12 aku naik ke angkot yg kedua, aku sudah pasrah jika sewaktu waktu angkot ini ngetem sudahlah mungkin aku harus membatalkan perjalanan ini.
Jam tanganku kini memberitahuku pukul 15.35 yah aku baru sampai di loket tiket kereta yang akan membawaku ke kotamu. Hmm dengan panik yang ada dan keringat setelah sedikit berlari aku segera menyelesaikan tugasku didepan loket kereta dan segera bergegas masuk ke kereta yang segera berangkat.
Dan pukul 15.43 aku duduk di kursi kereta dan bersiap untuk menuju ke kotamu.
Aku senang karena kali ini aku tidak terlambat seperti waktu itu, karena terlambat 2menit saja aku takan bisa melihat raut wajah cemberut dirimu saat aku terlambat dulu.
Didalam
kereta awalnya sangat sejuk dan mengasyikan apalagi ketika jendela kereta masih
berwarna dan masih bisa ku nikmati keindahan alam yang disuguhkan perjalanan
ini, sampai pada pukul 20.19 aku merasa perjalanan ini mulai membosankan dan
aku memutuskan untuk segera beristirahat dan memejamkan mata.
Pada pukul 0.13 aku sadar switer hitamku tak cukup baik untuk menjaga hangat tubuhku karena udara kabin keretanya yang terlalu dingin.
Aku jadi ingat kejadian di tanggal ulang tahunmu.
Ketika aku datang ke tempatmu didaerah pangalengan ketika itu kamu sedang melakukan praktek kerja lapangan disana.
Ditanggal 9 aku pergi membawa gelang yang sengaja aku beli dari tempat dimana kita pernah berdiri bersama memilih gelang yang kita sukai, tapi saat itu kita tak jadi membelinya karena kau terlihat malu oleh temanmu Yang menggoda kedekatan kita saat itu entahlah aku bahagia, aku senang saat melihat wajah malumu. ditanggal 6 ya 3 hari sebelum ulang tahunmu aku kembali lagi kesana untuk membeli gelang itu. Aku tau mungkin gelang itu harganya tak seberapa, tapi saat itu aku melihat sedikit ketertarikanmu akan gelang ini. J ayo kita kembali lagi ke perjalanku menuju tempat praktek kerja lapanganmu J.
Seperti biasa hari itu aku pergi tanpa memikirkan alasan untuk menuju ke tempatmu, saat itu hujan lebat, aku pergi bersama vespaku menuju tempatmu. Setelah acara kejutan untukmu selesai aku putuskan untuk bermalam disana, karena waktu juga tak memungkinkan aku untuk pulang.
Dengan jaket yang basah dan celana basah aku harus melewati malam panjang yang dingin khas pegunungan, memang sih Sangat jauh dinginnya dibandingkan dinginnya kabin kereta ini. Tapi kedua dingin ini mampu membuatku terjaga.
Pada pukul 0.13 aku sadar switer hitamku tak cukup baik untuk menjaga hangat tubuhku karena udara kabin keretanya yang terlalu dingin.
Aku jadi ingat kejadian di tanggal ulang tahunmu.
Ketika aku datang ke tempatmu didaerah pangalengan ketika itu kamu sedang melakukan praktek kerja lapangan disana.
Ditanggal 9 aku pergi membawa gelang yang sengaja aku beli dari tempat dimana kita pernah berdiri bersama memilih gelang yang kita sukai, tapi saat itu kita tak jadi membelinya karena kau terlihat malu oleh temanmu Yang menggoda kedekatan kita saat itu entahlah aku bahagia, aku senang saat melihat wajah malumu. ditanggal 6 ya 3 hari sebelum ulang tahunmu aku kembali lagi kesana untuk membeli gelang itu. Aku tau mungkin gelang itu harganya tak seberapa, tapi saat itu aku melihat sedikit ketertarikanmu akan gelang ini. J ayo kita kembali lagi ke perjalanku menuju tempat praktek kerja lapanganmu J.
Seperti biasa hari itu aku pergi tanpa memikirkan alasan untuk menuju ke tempatmu, saat itu hujan lebat, aku pergi bersama vespaku menuju tempatmu. Setelah acara kejutan untukmu selesai aku putuskan untuk bermalam disana, karena waktu juga tak memungkinkan aku untuk pulang.
Dengan jaket yang basah dan celana basah aku harus melewati malam panjang yang dingin khas pegunungan, memang sih Sangat jauh dinginnya dibandingkan dinginnya kabin kereta ini. Tapi kedua dingin ini mampu membuatku terjaga.
31 Maret
2016, pukul 05.20 jendela keretaku kembali berwarna, kini nampak langit indah
surabaya. Entahlah diatas kereta aku sangat ingin segera menginjakan kakiku di
kotamu, merasakan dekatnya langkahku
menuju dirimu. Tapi itu ketika masih di atas kereta beda halnya ketika
aku kini duduk di kursi depan stasiun. Jam tanganku kini menujukan pukul 05.41
terlalu pagi jika aku harus pergi ke tempatmu, karena mata mataku yang ku
selipkan diantara teman temanmu memberitahuku acara pelantikan mu pukul 09.00,
maka aku putuskan untuk menunggu sambil ku nikmati langit kota tempatmu
mendewasa dari balik dedaunan pohon disudut tempat parkir, ya masih sambil
duduk di kursi depan stasion. Berbicara tetang langit Aku ingat sebuah puisi
tentang langit yang mengajariku dan membuatku jatuh cinta akan langit.
Langit tak
pernah sama,
Tiap pagi selalu membagi hal berbeda. Tentang asa, tentang harap. Tentang cerita yang kian menyita masa.
Tiap pagi selalu membagi hal berbeda. Tentang asa, tentang harap. Tentang cerita yang kian menyita masa.
Kau tahu, kan?
Langit selalu memberi semburat cahaya yang dengannya kau akan jatuh cinta.
Atau awan yang gumpalnya selimuti siang.
Atau gelapnya yang sisakan tanya.
Atau bulan yang memesona.
Langit selalu memberi semburat cahaya yang dengannya kau akan jatuh cinta.
Atau awan yang gumpalnya selimuti siang.
Atau gelapnya yang sisakan tanya.
Atau bulan yang memesona.
Ah, masih
saja.
Langit rela membagi tempat dengan matahari, yang dengannya memberi cahaya tak berujung, yang ikhlas menjelma menjadi bagian jiwa.
Langit rela membagi tempat dengan matahari, yang dengannya memberi cahaya tak berujung, yang ikhlas menjelma menjadi bagian jiwa.
Langit rela
membagi sisi dengan awan, yang dengan ikhlas menjelma menjadi hujan, yang tetes
rintiknya berpisah dan turun ke bumi, bertemu tanah gersang.
Langit rela
membagi gelap, yang dengannya menghidupkan redupnya bintang.
Langit rela
membagi arah dengan bulan, yang dengannya torehkan senyum semesta. Malu malu
menyapa senja.
Langit rela
membagi luasan dengan angin.
Yang dengan ikhlas menjelma menjadi embun yang harapnya tergantung dipucuk daun.
Yang dengan ikhlas menjelma menjadi embun yang harapnya tergantung dipucuk daun.
Tapi,
Langit tak akan pernah mampu membagi tempat dengan manusia, yang penuh dengan tumpukan dusta.
Langit tak akan pernah mampu membagi tempat dengan manusia, yang penuh dengan tumpukan dusta.
Ya
itulah karyamu, puisimu, bukti cintamu dan alasan cintaku terhadap langit. Dan
kini aku masih terpaku duduk dikursi depan stasion dengan sejuta hayalan indah
ketika waktu akan mempertemukan kita nanti.
Hmm entah kini aku rasa rindu dan ingin bertemu yang berlebih.
Hmm entah kini aku rasa rindu dan ingin bertemu yang berlebih.
08.15
Aku tiba didanau di wilayah kampusmu.
Aku ingat dulu aku pernah datang kesini tapi sayang aku hanya bisa menemui bayang bayangmu saja. Di ujung telepon kau ceritakan kebiasaanmu di depan danau ini, kau cerita dimana kau duduk dan bilang bahwa danau ini tempat kau ceritakan kegalauanmu tentang dunia.
Hmm sungguh indah saat itu aku duduk menghadap danau ini sambil mendengarkan suara lembutmu dan sesekali ku pejamkan mata untuk membayangkan dirimu.
Tapi itu dulu, kini tak ada suaramu yang menemaniku, kau mungkin masih tak tau kehadiranku dikotamu, kini hanya ada harapan yang teramat besar untukku berjumpa denganmu.
Dan apakah kau sudi untuk menemuiku disini?
Ya aku masih disini, masih bersama danaumu menunggu.
Aku tiba didanau di wilayah kampusmu.
Aku ingat dulu aku pernah datang kesini tapi sayang aku hanya bisa menemui bayang bayangmu saja. Di ujung telepon kau ceritakan kebiasaanmu di depan danau ini, kau cerita dimana kau duduk dan bilang bahwa danau ini tempat kau ceritakan kegalauanmu tentang dunia.
Hmm sungguh indah saat itu aku duduk menghadap danau ini sambil mendengarkan suara lembutmu dan sesekali ku pejamkan mata untuk membayangkan dirimu.
Tapi itu dulu, kini tak ada suaramu yang menemaniku, kau mungkin masih tak tau kehadiranku dikotamu, kini hanya ada harapan yang teramat besar untukku berjumpa denganmu.
Dan apakah kau sudi untuk menemuiku disini?
Ya aku masih disini, masih bersama danaumu menunggu.
Pukul
09.17
Aku
putuskan pergi ke acara pelantikan berlangsung, setelah bertanya kesana kemari
dan sempat ditahan di pintu masuk karena tidak membawa undangan tapi dengan sedikit kecerdikanku pukul 09.39
akhirnya kini aku duduk di aula tempat pelantikan berlangsung.
Suasananya
sangat hidmat, didalam semua tamu berpakaian rapih dan begitu seriusnsya
memperhatikan setiap rangkaian acaranya. Berbeda denganku, dengan rambut
gondrongku, kemeja yang ku buka kancingnya dan ku gulung kedua lengan bajunya
ditambah celana jins yang cukup kumal, dan ditambah lagi dengan tingkahku yang sibuk
mencari posisi dirimu yang masih belum
aku bisa ku temui.
Pukul
10.14 tiba ke acara dimana mc menyebut satu persatu peserta maju kedepan,
sambil menyebutkan gelar baru di depannya. Aku lupa urutan keberapa ketika kau
mulai berdiri dan mc menyebutkan namamu beserta gelar baru yang kau dapat, saat
itu air mataku menetes bangga melihatmu berjalan didepan untuk dikalungi medali
dan bersalaman dengan para dekan. Lalu mata ini terus mengikuti gerakmu dengan
senyum indahmu kau berjalan berbalik sehingga ku tau kini posisi kau duduk.
Entahlah
saat itu aku ingat masa putih biru kita , ketika dirimu berjalan dari arah
barisan kelasmu dengan kerudung yang agak melebar khasmu dengan malu kau
berjalan sambil menyalami ibu bapak guru semasa kita smp dulu. Aku ingat ada
sahabat kita berdua yang bernama awan, ya laki laki hebat yang berhasil membuatmu
jatuh hati. Rasaku kini mulai bimbang sesaat ketika aku baru saja senang
mengetahui posisimu duduk meski terhalang temanmu berkerudung merah.
Kini aku
tak terlalu memperhatikan acaranya, karena kini seolah waktu membawaku kembali
kemasa itu, kemasa putih biru kita. Entahlah mungkin yang harusnya ada disini
bukan aku tapi awan, ya lelaki hebat yang kini sudah berada bersama ayahku
disurga sana. Rasa bimbangku kini menggumpal berubah menjadi rasa rendah diri,
aku merasa tidak pantas jika aku harus mengingat masalalu kita, bahkan aku yang
sekarang jauh dibandingkan apa yang ada dimasalalumu. Kenanganmu bersama awan
begitu ku ingat, bahkan semua barang barang dari masalalumu bersama awan yang
kau titipkan padaku masih kusimpan dengan rapih, mulai dari kotak susu, gelas,
minyak kayu putih, kalung yang bertulisakan namamu dan dia, janji janji yang
ditulis di balik foto atau boneka beruang biru pemberian awan untukmu dan semua
barang itu aku masih menyimpannya. Bahkan surat mu untuk awan pun dikertas usam
dengan pena bertinta biru itu masih ku simpan. Mungkin kau tak menyadarinya aku
masih menyimpan barang barang itu seperti kau tak sadar kehadiranku kini
dikotamu. Aku ingin menceritakan kenangan disetiap barang barang itu, tapi
sayang aku harus menghemat batrai hpku dan sebentar lagi acara ini kurasa akan segera
selesai karena jamku menunjukan pukul 11.10 . benar saja pukul 11.23 acara
selesai dan aku masih duduk ditempat dudukku menunggu tamu yang lain yang
sedang berdesakan dipintu keluar. Di depan sana dirimu mulai beranjak dari
tempat dudukmu, kau masih tak menyadari kehadiranku padahal kini kau dan aku
ada di garis lurus yang berhadapan, hingga temanmu harus berbisik dan menunjuk
kearahku untuk memberitahumu. Aku tersenyum dan kau terkejut J. Disaat itu ada sekumpulan temanmu
yang lain menghampirimu, entahlah saat itu kurasa cukup dan aku pergi
menghilang tanpa ucapan selamat atau sekedar menyapa. Aku sudah terlanjur
menjadi orang yang rendah diri ketika waktu membawaku kemasalalu kita, dan kini
kau dengan gelar dan semua tentangmu yang begitu luar biasa aku merasa bukan
apa apa.
Pada
pukul 12.37 aku berniat untuk pergi ke stasion tapi saat itu uangku tidak cukup
untuk membeli tiket kereta api, dan satu satunya jalan aku harus naik bis untuk
pulang, masalah selanjutnya aku tak tau naek bis dari mana , terus ke terminal
naek apa, kalau naek gojek uangnya gaakan cukup. Tapi ditengah kebingungan itu
aku bertemu dengan temanmu yang dulu menemaniku pertama kali datang ke kotamu,
setelah panjang lebar berbincang pada pukul 13.21 dia menawarkan diri untuk
mengantarkanku keterminal, hmm memang kalau reziki ga kemana yah. Terimakasih sudah
mengenalkanku pada temanmu ini ya J
Perjalannan
dari kampusmu ke terminal lumayan cukup jauh, menaiki motor temanmu yang kini
sudah di upgrade dibandingkan dulu sambil mendegarkan dy bercerita tentang
tempat tempat yang kita lalui, kini khayalku tertuju pada dirimu. Aku
membayangkan membonceng dirimu menuju tempat tempat seru yang sering kau
kunjungi dikota ini selain danaumu itu. Hmmm tertawa, bercanda, melihat wajah
malumu saat ku goda , atau wajah cemberutmu yang lucu saat ku sengaja membuatmu
kesal. J semuanya indah meski dalam imaji. Dan
kini temanmu sudah menghentikan sepedah motornya tepat didepan terminal dan
sebelum dy pergi aku menitipkan sesuatu padanya, ya selembar kertas usam
bertuliskan selamat wisuda yang pernah ku bawa ke puncak gunung tertinggi
dikota kelahiranmu saat aku kesal tak bisa hadir di acara wisudamu karena kau
tak memberitahuku dan akhirnya aku pergi ke puncak gunung itu hanya untuk
mengucapkan selamat untukmu.
Maaf kan
aku masih saja menjadi pengecut dengan
tak memberi ucapan langsung padamu padahal aku sudah datang dikotamu, semoga
tulisan itu bisa mewakilkan semuanya.
Mila,
maaf aku harus mengakhiri tulisan ini, karena batrai handponku tingal 12% lagi,
di akhir tulisan ini aku ingin jujur akan perasaanku padamu, tentang semua yang
kulakukan untukmu. Aku tau aku hanya adik atau sahabat untukmu, kau pernah
bilang rasa itu akan tetap sama untukku.
Aku tau
juga, aku mungkin akan mengingatkanku pada masalalumu yang mungkin belum bisa
kau bangun darinya, tapi masih kurangkah perjuanganku untuk melepaskan belenggu
masalalu itu, jika iya biarkan ku tetap berjuang, meski seperti katamu rasamu
akan tetap sama padaku dan belenggu masalalu itu tak bisa ku lepaskan. Aku
ingin tetap berjuang, karena aku yakin bila aku jatuh suatu saat nanti aku
yakin sudah jatuh ditempat yang benar.
Mila,
maaf kan aku juga, kau bilang sudah ada ikhwan lain yang kau harapkan, dan
orang itu bukan aku. Kau ingin pula bersikap adil padanya karena kau memberi
jarak padanya kau juga ingin memberi jarak antara aku dan kamu. Bolehkah aku
menunggu dan memperbaiki diri untukmu? Itu tanyaku, tapi kau memintaku untuk
berhenti berharap dan kau mengungkapkan bahwa kau tak bisa memberikan
sedikitpun harapan untukku. Tapi maafkan aku , karena telah berharap dengan hati
yang keras kepala. Jadi walaupun kau tak bisa memberikan ku harapan, bolehkah
aku menumbuhkan harapanku sendiri, dan terus menunggu mu, meski aku tau mungkin
kau tak akan datang, tapi aku tau dengan menunggumu aku masih punya harapan.
No comments:
Post a Comment