Caraku memimpin memang akan banyak orang yang tak setuju ketika aku harus menerima tonggak kepemimpinan setelah pemimpin sebenarnya harus kembali lebih awal menghadapNya..
Ada rasa kesal yang mendalam yang masih belum bisa ku ceritakan pada semua orang. Tapi sudahlah biarkan itu menjadi virus yang mgkin sudah menyebar dan siap meluap kapan saja, entahlah.
Setelah kepergiannya, koloni yang ia tinggalkan begitu semrawut, ketergantungan akan sosok pemimpin yang begitu sempurna sangat sulit di tepiskan. Kesedihan, kehilangan dan ketidak siapan menjadi lara yang kian hari semakin mengental, mengeras hingga mengkristal. Tak ada langkah yang jelas menjemput rezeki, hanya memakan rampasan perang dari kepemimpinan sebelumnya yang kian lama kian menipis. Hingga tiba ketika hanya ada dinding dan lantai yang tersisa.
Waktu terus berganti, menerpaku menjadi seorang yang berbeda dihadapan koloni ini, tawa canda atau obrolan yang cair kini mulai mengental. Tiba dimana aku menjadi pribadi yang begitu keras tak kenal kompromi untuk melindungi koloni ini dan tempat tinggal ini.
Caraku memimpin memang sangatlah beda, tak banyak bicara, bahkan ku buat semua segan padaku, ketergantungan akan sebuah harta yang tersisa dan nama besar itu yang ingin aku hilangkan.
Kata durhaka mungkin sudah lama aku dapatkan dari caraku memimpin, kata pemarah,pembenci,penghianat yang tak peduli pada koloni telah ku dapatkan juga sejak lama.
Kini aku adalah aku, pemimpin sebagai aku, memimpin dengan caraku.
Jika tiba saatnya nanti mereka akan lebih dariku dan mungkin akan membenciku,dan memperlakukanku seperti yang aku lakukan pada mereka, itu sudah menjadi pilihan dari cara yang ku pilih.
Aku yakin waktu itu akan tiba, dan saat itu terjadi setidaknya aku akan melihat mereka jauh lebih baik dan hebat dariku.
Ada rasa kesal yang mendalam yang masih belum bisa ku ceritakan pada semua orang. Tapi sudahlah biarkan itu menjadi virus yang mgkin sudah menyebar dan siap meluap kapan saja, entahlah.
Setelah kepergiannya, koloni yang ia tinggalkan begitu semrawut, ketergantungan akan sosok pemimpin yang begitu sempurna sangat sulit di tepiskan. Kesedihan, kehilangan dan ketidak siapan menjadi lara yang kian hari semakin mengental, mengeras hingga mengkristal. Tak ada langkah yang jelas menjemput rezeki, hanya memakan rampasan perang dari kepemimpinan sebelumnya yang kian lama kian menipis. Hingga tiba ketika hanya ada dinding dan lantai yang tersisa.
Waktu terus berganti, menerpaku menjadi seorang yang berbeda dihadapan koloni ini, tawa canda atau obrolan yang cair kini mulai mengental. Tiba dimana aku menjadi pribadi yang begitu keras tak kenal kompromi untuk melindungi koloni ini dan tempat tinggal ini.
Caraku memimpin memang sangatlah beda, tak banyak bicara, bahkan ku buat semua segan padaku, ketergantungan akan sebuah harta yang tersisa dan nama besar itu yang ingin aku hilangkan.
Kata durhaka mungkin sudah lama aku dapatkan dari caraku memimpin, kata pemarah,pembenci,penghianat yang tak peduli pada koloni telah ku dapatkan juga sejak lama.
Kini aku adalah aku, pemimpin sebagai aku, memimpin dengan caraku.
Jika tiba saatnya nanti mereka akan lebih dariku dan mungkin akan membenciku,dan memperlakukanku seperti yang aku lakukan pada mereka, itu sudah menjadi pilihan dari cara yang ku pilih.
Aku yakin waktu itu akan tiba, dan saat itu terjadi setidaknya aku akan melihat mereka jauh lebih baik dan hebat dariku.
"Kadang Kebencian bisa menjadi bahan bakar untuk orang menjadi termotivasi untuk bangkit dan menjadi lebih baik dari orang yang ia benci"
Dan,
Dan,
"Jika kau membenci seseorang cara membenci yang terbaik adalah membuktikan kau lebih baik darinya."
Alvikuye, 26 Juni 2016
Singaparna, Tasikmalaya
Singaparna, Tasikmalaya
No comments:
Post a Comment