9 Juli,
Aku duduk menatap air terjun, menikmati indahnya surga para pencinta alam. Riak air yang jatuh ditarik gravitasi tak henti lepas dari telinga yang sedang mabuk karena riaknya. Diselingi suara burung dan serangga yang menciptakan simfoni alam yang menawan.
Sesekali aku merenung apakah air bersedih telah dijatuhkan dari tebing yang begitu tinggi. Menghantam kawanan batu kali yang kokoh menghadang. Dari celah riaknya mungkin akan terdengar sebuah tangis, tapi tak terdengar satupun tangis. Aku semakin penasaran apa yang sebenarnya air rasakan. Aku putuskan untuk lebih mendekat, merelakan dingin menusuk cela cela tubuhku dan aku mulai menyatu dengan air.
Diantara air aku coba mendengar bisik gemercik air yang kini tepat di telingaku.
Huhh, tetap saja tangis itu tak terdengar, kini hanya ada bayangan ayahku yang pernah berkata padaku "ikhlaslah seperti air".
Apakah memang air begitu ikhlasnya,
Sampai tangis yang ku cari tak pernah ku temui.
Meski ku tau tak selamanya aliran sungai mulus.
Dijatuhkan, dihantam dan di kontaminasi hingga rupamu di benci, kau selalu ikhlas mengalir sampai kemuara terakhir tanpa tangis.
Alvikuye,
Curug batu blek
Cisayong 9/7/16
No comments:
Post a Comment